Usulan Gus Dur Pahlawan Nasional
Hampir satu pekan Kiai Haji Abdurrahman Wahid telah pergi. Tapi kenangan terhadap dirinya sangat melekat bagi banyak kalangan. Sosoknya yang bersahaja, berani dan konsisten bersikap, membuat Gus Dur ada dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenal dan dekat presiden republik Indonesia ke-4 ini.
Gus Dur adalah kyai besar. Ia juga dikenal sebagai tokoh yang sangat demokratis, bahkan cenderung anti birokrasi. Gus Dur adalah seorang guru bangsa, yang mengajarkan bagaimana sesorang harus bersikap terhadap sesama.
Gus Dur diakui sebagai tokoh terdepan dalam memperjuangkan pluralisme, kesetaraan dalam keragaman, lintas agama, lintas suku dan golongan, juga lintas sosial, dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak pihak.
Jasanya yang besar terhadap Republik Indonesia membuat banyak kalangan mengusulkan agar tokoh yang memperjuangkan kemajemukan dan hak-hak asasi manusia, serta melindungi hak-hak bagi golongan minoritas ini, diberi gelar pahlawan nasional, bahkan ketika tanah makam Gus Dur belum juga kering.
Bagi sejumlah orang, Gus Dur dianggap sebagai tokoh politik dan tokoh agama, yang ketokohannya tak hanya diakui di Indonesia. Mantan Ketua Umum PB Nahdatul Ulama ini, kapasitasnya juga diakui di dunia internasional.
Tentu saja menjadikan seseorang mendapat gelar pahlawan nasional, bagi tokoh sekaliber Gus Dur, sekalipun tak semudah membalik telapak tangan. Mengacu pada undang-undang nomor 20 tahun 2009 soal gelar, tanda jasa, dan tanda kehormatan, selain syarat administratif yang harus dipenuhi, kualitas pribadi dan ketokohan orang yang diusulkan, juga menjadi dasar utama penganugerahan gelar pahlawan nasional. Seseorang dapat diberi gelar pahlawan nasional jika memenuhi sejumlah syarat dan ketentuan.
Warga negara Republik Indonesia dan semasa hidupnya telah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Telah menghasilkan karya besar yang mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia.
Seseorang juga layak mendapat gelar pahlawan nasional jika mengabdi kepada bangsa sepanjang hidupnya, dan perjuangan yang dilakukannya berdampak nasional.
Memiliki semangat semangat kebangsaan, nasionalisme yang tinggi. Memiliki akhlak dan moral keagamaan yang tinggi.
Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan, serta tidak pernah melakukan perbuatan tercela yang dapat merusak nilai perjuangannya. Dan secara administratif, usulan itu harus dibuat secara resmi oleh daerah kepada pemerintah, dan nanti puncaknya harus disetujui oleh presiden Republik Indonesia.
Tidak mudah memang. Tapi keinginan masyarakat untuk menjadikan Kiai Haji Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan nasional, memang bukan omong kosong. Seluruh fraksi di DPR bahkan saling mengklaim bahwa merekalah yang pertama melontarkan gagasan usulan Gus Dur sebagai pahlawan nasional. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang memiliki kedekatan sejarah dan emosional bahkan menyatakan akan mengirimkan surat resmi usulan kepada pemerintah hari ini.
Di dunia maya, para fesbuker yang dianggap mewakili kalangan terdidik bahkan telah membuat sedikitnya lima grup mendukung usulan menjadikan Gus Dur sebagai pahlawan nasional.
Dalam grup lima juta fesbuker tetapkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional bahkan telah mencatatkan 25.547 anggota. Rata-rata mereka menganggap Gus Dur sebagai tokoh yang lintas gender, lintas agama, dan lintas negara, yang diakui secara nasional maupun internasional.
Salah satu grup fesbuk bahkan meminta pemerintah menetapkan Gus Dur sebagai pahlawan nasional pada 10 November tahun ini. Tentu saja, usulan menjadikan Kiai Haji Abdurrahman Wahid sebagai pahlawan nasional harus ditindaklanjuti secara kongkrit, sebagai mana harapan banyak orang.
Gus Dur, dikenal sebagai sosok yang bisa diterima semua kalangan. ketokohannya juga menembus batas wilayah negara dan pandangannya jauh menembus batas waktu. Gus Dur juga dianggap sebagai kiai haji berdarah biru, karena di darahnya menetes darah pahlawan. Dua generasi dalam keluarganya, yakni, kakek Gus Dur, KH Hasyim Asya’ari, pendiri NU, dan KH. Wahid Hasyim, ayahanda Gus Dur yang pernah menjabat menteri agama, adalah pahlawan nasional.
Gus Dur sendiri oleh banyak orang telah dianggap sebagai pahlawan multi kultural, pahlawannya kaum minoritas, dan mereka yang terpinggirkan. Layak tidaknya Gus Dur menjadi pahlawan nasional tergantung kepada kita sepenuhnya. tetapi yang paling terpenting dari semuanya, adalah bagaimana kita dapat meniru dan meneruskan visi Kiai Haji Abdurrahman Wahid sebagai guru bangsa, pembela hak asasi manusia yang demokratis dan multikultural, daripada sekedar gelar pahlawan nasional yang sekedar simbolisasi penghormatan, tanpa kita pernah mengikuti apa yang diajarkannya.
Catatan : Jika kamu merasa tulisan ini menarik, sebarkan kepada teman2mu di facebook Klik Disini















