Akademi Terapi Wicara (ATW)
Awal berdirinya akademi Terapi Wicara dipelopori adanya kursus Speech Corection A dan B pada tahun 1971 hingga tahun 1972. Kursus ini diadakan berdasarkan kenyataan banyaknya orang-orang yang mengalami gangguan komunikasi di masyarakat. Ironisnya, mereka ini tidak mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhannya. Pun di Sekolah Luar Biasa (SLB), karena saat itu belum ada guru yang dididik khusus menangani orang-orang yang kesulitan berbicara.
Akhir tahun 1972 diadakan evaluasi terhadap penyelenggaraan kursus. Melihat kebutuhan yang besar dari masyarakat, akhirnya kursus ini ditingkatkan menjadi program pendidikan tiga tahun. Latar belakang pendidikan pesertanya adalah lulusan SLTA. Program pendidikan ini diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Bina Wicara ?Vacana Mandira? Yayasan Bina Wicara.
Untuk meningkatkan kualitas peserta didik, maka diundanglah terapis wicara dari India Miss B Kusuma MSc dan linguist dari Belanda Ibu de Vreede Parkam. Sementara itu, kebutuhan pengajar pada mata kuliah dasar dapat diisi dosen-dosen dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, F Psikologi UI dan IKIP Jakarta.
Perjalanan institusi ini juga mengalami berbagai perkembangan, bahkan sempat bergabung pada Akademi Rehabilitasi Medik Jurusan Speech Therapy (1985 – 1987). Namun kemudian, berdasarkan SK Menkes RI No 221/Kep/Diknakes/XII/88 maka institusi ini diberikan ijin untuk menyelenggarakan program Pendidikan diploma III Terapi Wicara.
Karena statusnya yang swasta penuh, maka biaya opersional insitusi ini disubsidi dari pihak yayasan. Di sisi lain, calon mahasiswa yang masuk di ATW satu-satunya di Indonesia ini relatif sedikit. Hanya 10 orang per tahun. Imbasnya, perjalanan ATW seolah terseok-seok, namun toh tetap eksis. Proses belajar mengajar pun sempat berpindah-pindah, mulai di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jalan Teuku Umar, Kramat VI hingga akhirnya Kramat VII.
Per Tahun, Nombok Rp 60 Juta hingga Rp 70 juta
Kemampuan bertahan di tengah kekurangan inilah yang rasanya pantas dibanggakan. Ucapan ini terlontar dari bibir Direktur ATW Yayasan Bina Wicara, Dudung Abdurrachman SPd AMdTW, saat ditemui pusdiknakes.or.id, di kediamannya di kawasan Depok.
?Saya ingat, dulu tiap satu tahun ajaran kita nombok Rp 60 juta hingga Rp 70 juta,? ulas Dudung. Untunglah, sejak tahun 1999, jumlah peminat ATW makin bertambah. Yang membuat Dudung salut adalah sifat sosial yang dilakukan pihak yayasan. Yayasan yang diketuai Prof Dr H Hendarto Hendarmin Sp THT dan Ny JS Nasution ini selalu mengulurkan tangan tanpa menghitung untung atau rugi.
Sebenarnya, ulas Dudung, kekurangan peserta didik ini tak perlu terjadi mengingat kebutuhan akan terapis wicara sangat banyak. Pada tahun 1985 saja, kebutuhan akan terapis wicara telah mencapai angka 800 orang. Sementara yang tersedia hanya 86 orang, itupun termasuk mereka yang mengikuti kursus speech correction tahun 1871-1972.
Mengutip hasil survey Akademi Audiologi di 7 propinsi mengenai kesehatan pendengaran dan penglihatan, Dudung mengulas, sekitar 4,4 persen dari populasi (8 juta penduduk Indonesia) saat ini mengalami gangguan wicara. Termasuk di dalamnya adalah penderita gangguan pendengaran/ketulian (sekitar 0,4 persen atau 800 ribu orang). Jumlah ini ternyata belum termasuk mereka yang mengalami retardasi mental, auitsme, post stroke dsb.
Karena itulah, cetus pria kelahiran Majalengka ini, lulusan ATW sangat mudah bekerja. Mereka tersebar di RS Sakit terutama yang memiliki Instalasi Rehabilitasi Medik, SLB , Klinik Khusus, Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan mandiri (memberikan les privat), dengan status pegawai negeri sipil (PNS) atau swasta.
Cuma Punya Empat Ruang Kelas
Dudung mengatakan, kebutuhan akan terapis wicara ini tak akan mampu dipenuhi jika sekolah bagi terapis wicara tidak ditambah. Sejak berdiri, ATW yang dipimpinnya baru menelurkan 233 terapis wicara.
?Kalau dilihat antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga terapis, maka jumlahnya sangat tidak memadai. Kalau cuma mengandalkan ATW kita, dalam waktu 50 tahun atau 100 tahun pun belum tentu terkejar,? ucapnya. Khusus untuk kebutuhan rumah sakit saja, tuturnya, rasio idealnya adalah 1 terapis berbanding 30 pasien.
Kendala yang biasanya terulang tiap tahun adalah sedikitnya peminat untuk program pendidikan ini. ?Mungkin, sosialisasinya kurang,? ulas Dudung. Namun, imbuhnya, dia sudah mempublikasikan akademinya melalui banyak cara, baik iklan di media massa, brosur ke SMU maupun waktu pengumuman UMPTN, koordinasi ke akademi kesehatan lain, mengirim mahasiswanya ke SMU asal, hingga menghubungi gubernur-gubernur di seluruh Indonesia.
Di sisi lain, ATW yang cuma satu-satunya ini memiliki banyak keterbatasan. Mereka cuma memiliki empat ruang kelas (termasuk aula), sehingga maksimal peserta didik yang ditampung tiap tahunnya berkisar pada angka 60 orang. Belum lagi kebutuhan akan instruktur. Saat ini, seorang instruktur menangani sekitar 40 peserta didik hingga 50 peserta didik.
Tapi toh Dudung masih menyimpan kebanggan. Akademinya masih tetap eksis walau kekurangan dana, sementara grafik peminat akademi ini mulai merambat naik. Ke depan, dia ingin melengkapi fasilitas belajar anak didiknya sekaligus penambahan staf instruktur. Muncul harapan, kelak akademinya bisa masuk politeknik dan mengembangkan program D IV. Semoga?
Catatan : Jika kamu merasa tulisan ini menarik, sebarkan kepada teman2mu di facebook Klik Disini

















Kuckz Says:
Bye the info’a dapet darimana nie…????
Posted on November 21st, 2009 at 1:13 pm